Pembuat Vaksin Palsu di Gerebek Bareskrim Polri

Pembuat Vaksin Palsu di Gerebek Bareskrim PolriBapernet.com, Bekasi – Penggerebekan pasangan suami istri atau pasutri, Hidayat Taufiqurahman dan Rita Agustina yang diringkus oleh tim Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri. Kedua warga yang berdomisili di Kemang Regency, Jalan Kumala 2, Nomor M29, RT 09 RW 05, Bekasi Timur, Kota Bekasi itu, ditangkap lantaran terlibat sindikat pemalsu vaksin untuk balita.

Seperti yang diberitakan Liputan6.com, Bekasi, Kamis (23/6/2016). Komandan Regu Satpam Perumahan Kemang Regency, Eko Supriyanto, menceritakan detik-detik penggerebekan tersebut, yang dilakukan pada Rabu 22 Juni sekitar pukul 21.00 WIB.

Pada awalnya, polisi datang secara beriringan menggunakan empat unut mobil besar berwarna hitam. Di antara kendaraan tersebut juga mengangkut para pelaku lain, yang sudah lebih dulu ditangkap.

“Permisi, Pak, mohon ikut untuk kehadiran dan pengawalannya, pak,” ujar Eko, menirukan ucapan polisi yang berpakaian sipil menjelang penggerebekan.

“Lalu, saya tanya. Ada apa ya, pak?” kata Eko.

“Sudah ikut saja, nanti kamu tahu sendiri kok,” sambung si polisi.

Namun, ada sebuah kejadian saat penggerebekan. Saat petugas hendak menggerebek rumah pasutri tersebut, rupanya polisi salah rumah.

Mereka masuk ke rumah orang lain, yang posisinya hanya berjarak tiga rumah dari dari tempat tinggal pasangan Hidayat-Rita.

“Kebetulan nama pelaku yang Rita sama dengan tetangganya itu. Udah gitu, kan saat penggerebekan polisi ikut ngebawa pelaku lain, yang bekerja sebagai kurir,” kata Eko.

“Nah, kurirnya itu sempat salah tunjuk, nunjuknya ke rumah tetangga. Maklum, waktu itu juga sudah malam,” sambung dia.

Kesalahpahaman tersebut tidak berlangsung lama. Sebab, tetangga yang juga bernama Rita itu memaklumi kesalahan polisi.

“Enggak lama, si kurir (belakangan diketahui berinisial SH, sebagai kurir dan produsen) menunjuk rumah lain. Rumah kedua itu, ya rumah Bu Rita dan Pak Hidayat,” papar Eko.

Dalam penggerebekan tersebutlah, polisi akhirnya menemukan ribuan botol obat yang diduga sebagai vaksin palsu. Tak hanya itu, penyidik juga mendapatkan sebuah alat pembuat kemasan.

“Dari empat mobil itu, hanya ada enam anggota yang turun. Mereka langsung melakukan penggeledahan,” jelas Eko yang ikut menyaksikan langsung penggerebekan.

Tersangka mengelak

Awalnya, kata Eko, Rita sempat mengelak dan melawan aparat kepolisian, jika dirinya dituduh sudah memproduksi vaksin ilegal. “Katanya, bapak jangan macem-macem ya, bisa aja bapak yang taruh itu di gudang.”

“Terus enggak lama, polisinya bilang, ‘kita ini profesional, Bu. Kita masuk dengan tangan kosong, dan hanya membawa surat penangkapan ini’,” sambung Eko, menirukan ucapan Rita.

Namun, Rita tak bisa berkilah lagi. Ia bungkam, saat petugas kembali menemukan ribuan botol vaksin palsu yang ia simpan dalam tempat ibadah dan kamar pribadinya.

“Barang bukti yang pertama ketemu itu di gudang. Bentuknya obat-obat cairan, yang berwarna putih. Kaya air infus. Setelah itu, petugas dapat lagi di dalam tempat ibadah dan kamar pribadinya. Nah, di situ udah dalam bal-balan kardus (siap edar),” papar Eko.

Kemenkes: Tak Perlu Khawatir Peredaran Vaksin Palsu

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menegaskan bahwa peredaran vaksin palsu tersebut tidak perlu terlalu dirisaukan. Meski memang tetap harus diwaspadai, namun Kemenkes memberi petunjuk agar para orang tua tidak perlu terlalu waswas dengan hal tersebut.

Melalui akun Twitter resmi @KemenkesRI, Kemenkes menyampaikan sebanyak 7 alasan agar masyarakat tidak perlu khawatir dengan peredaran vaksin palsu.
Berikut alasan yang disampaikan tersebut:

  1. Jika anak Anda mendapatkan imunisasi di Posyandu, Puskesmas, dan Rumah Sakit Pemerintah, vaksin disediakan oleh pemerintah yang didapatkan langsung dari produsen dan distributor resmi. Jadi vaksin dijamin asli, manfaat dan keamanannya
  2. Jika anak Anda mengikuti program pemerintah yaitu imunisasi dasar lengkap di antaranya Hepatitis B, DPT, Polio, Campak, BCG, pengadaannya oleh pemerintah didistribusikan ke Dinas Kesehatan hingga fasyankes. Jadi dijamin asli, manfaat dan keamanannya.
  3.  Jika peserta JKN dan melakukan imunisasi dasar misalnya vaksin BCG, Hepatitis B, DPT, Polio dan Campak, pengadaan vaksin didasarkan pada Fornas dan e-catalog dari produsen dan distributor resmi, jadi asli dan aman.
  4. Ikuti program imunisasi ulang seperti DPT, Polio, Campak. Tanpa adanya vaksin palsu, imunisasi ini disarankan (harus) diulang. Jadi bagi yang khawatir, ikut saja imunisasi ini di posyandu dan puskesmas.
  5. Diduga peredaran vaksin palsu tidak lebih dari 1% wilayah Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Ini relatif kecil secara jumlah vaksin yang beredar dan wilayah sebarannya.
  6. Dikabarkan isi palsu itu campuran antara cairan infus dan gentacimin (obat antibiotik) dan setiap imunisasi dosisnya 0,5 CC. Dilihat dari isi dan jumlah dosisnya, vaksin palsu ini dampaknya relatif tidak membahayakan.
  7. Karena vaksin palsu dibuat dengan cara yang tidak baik, maka kemungkinan timbulkan infeksi. Gejala infeksi ini bisa dilihat tidak lama setelah diimunisasikan. Jadi kalau sudah sekian lama tidak mengalami gejala infeksi setelah imunisasi bisa dipastikan aman. Bisa jadi anak Anda bukan diimunisasi dengan vaksin palsu, tetapi memang dengan vaksin asli.

    Sebelumnya, Menkes Nila Moeloek mengaku tengah mendata rumah sakit atau fasilitas kesehatan mana saja yang memakai vaksin palsu itu. Nila mengaku belum tahu pasti di mana saja peredaran vaksin palsu tersebut. Dia tengah berkoordinasi dengan Bareskrim Polri terkait hal itu.

    “Vaksin itu sebenarnya sejak 2003 sudah ada yang ditangkap, sekarang sedang didata rumah sakit yang pakai,” kata Menkes Nila Moeloek usai menghadiri acara Hari Anti Narkoba Internasional di Jl Cengkeh, Tamansari, Jakarta Barat, Minggu (26/6/2016).

    “Saya belum tahu, tapi sedang didata (tempat peredarannya). Tapi coba tanya ke Bareskrim saja,” imbuhnya.

    Vaksin palsu itu menggunakan botol bekas vaksin yang kemudian diisi dengan antibiotik Gentacimin yang dioplos dengan cairan infus, lalu diberi label. Cairan lainnya yang dipakai sebagai oplosan adalah cairan infus dengan vaksin tetanus.

    Diduga peredaran vaksin palsu terjadi di rumah sakit kecil atau klinik-klinik. Kemenkes mengimbau orang tua yang khawatir anaknya disuntik vaksin palsu untuk melapor.

    Sumber: news.detik.com, news.liputan6.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s